DIVISI88 NEWS. COM BALIKPAPAN,– Tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Balikpapan menunjukkan penurunan pada Oktober 2026. Meski menjadi perkembangan positif, Polresta Balikpapan tetap memperkuat langkah pencegahan, deteksi dini, serta inovasi pemadaman guna mengantisipasi potensi kebakaran, terutama saat kondisi cuaca kering.
Kapolresta Balikpapan Kombes Pol. Jerrold Hendra Yosef Kumontoy, S.I.K., M.Si., menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan, menurutnya, harus menjadi prioritas dengan melibatkan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan.
“Jadi bukan hanya bagaimana kita memadamkan api, tetapi bagaimana kebakaran itu bisa kita cegah sejak awal,” ujar Jerrold.
Berdasarkan data yang dihimpun, sepanjang Agustus tercatat 43 kejadian kebakaran lahan dengan luas area terdampak sekitar 12,25 hektare. Pada September, jumlah kejadian meningkat menjadi 69 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 81 hektare.
Memasuki Oktober, jumlah kejadian menurun menjadi 11 kasus. Meski demikian, kondisi tersebut tetap memerlukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan agar kebakaran tidak kembali meningkat.
Perkuat Pencegahan dan Kesiapsiagaan
Kapolresta menjelaskan, sejumlah langkah antisipasi terus dilakukan, mulai dari pemetaan wilayah rawan, deteksi dini, sosialisasi kepada masyarakat hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan secara melanggar hukum.
Kesiapsiagaan personel juga diperkuat pada 13 Agustus lalu sebagai respons terhadap prediksi BMKG mengenai potensi musim kemarau yang cukup ekstrem.
“Antisipasi harus dilakukan sebelum kejadian. Kita perlu melihat potensi wilayah yang rawan dan menyiapkan personel maupun sarana yang dibutuhkan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, petugas masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan akses sumber air yang terkadang cukup jauh dari titik kebakaran. Kondisi tersebut dapat menghambat proses pemadaman ketika api telanjur membesar dan merambat ke area yang lebih luas.
Selain faktor teknis, aktivitas pembakaran sampah secara terbuka juga menjadi perhatian. Api yang awalnya kecil berpotensi merembet ke lahan di sekitarnya, khususnya ketika vegetasi dan permukaan tanah dalam kondisi kering.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan masing-masing.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Inovasi Pemadaman
Penanganan karhutla, lanjut Jerrold, membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Kepolisian tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu didukung pemerintah daerah, instansi terkait, masyarakat, dan perusahaan swasta melalui koordinasi yang terpadu.
Pemanfaatan platform digital juga didorong untuk mempercepat pertukaran informasi mengenai titik panas atau hotspot, sehingga petugas dapat melakukan pengecekan dan penanganan lebih cepat di lapangan.
Di sisi lain, Polresta Balikpapan turut mendorong pengembangan inovasi untuk mendukung upaya pemadaman. Bersama Universitas Mulawarman, dikembangkan cairan berbahan surfaktan yang dicampurkan dengan air untuk membantu meningkatkan efektivitas pembasahan area terbakar dan mendukung proses pemadaman.
Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pendukung penanganan kebakaran, termasuk pada wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang rentan terbakar. Efektivitas penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan hasil pengujian teknis.
Kapolresta menambahkan, evaluasi terhadap penanganan karhutla pada tahun-tahun sebelumnya perlu terus dilakukan. Kendala yang ditemukan di lapangan harus menjadi bahan perbaikan, baik dalam penyusunan strategi pencegahan, kesiapan personel, ketersediaan sarana maupun koordinasi antarlembaga.
Melalui penguatan deteksi dini, peningkatan kesiapsiagaan, inovasi pemadaman, serta keterlibatan aktif masyarakat, Polresta Balikpapan berharap angka kejadian karhutla dapat terus ditekan.
Sebab, menjaga lingkungan dari ancaman kebakaran bukan semata-mata tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama. Keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari kecepatan memadamkan api, tetapi juga dari kemampuan semua pihak mencegah kebakaran sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Reporter: Eko
DIVISI88 NEWS


























