BeritaSosial

PEWARNA Gelar Seminar Nasional Ekoteologi dan Percandian Nusantara, Fadli Zon: Candi Adalah Pusat Peradaban dan Kesadaran Spiritual

16
×

PEWARNA Gelar Seminar Nasional Ekoteologi dan Percandian Nusantara, Fadli Zon: Candi Adalah Pusat Peradaban dan Kesadaran Spiritual

Sebarkan artikel ini

Divisi88news,com. Jakarta Selatan — Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) kembali menggelar seminar nasional bertema “Merajut Spiritualitas, Membongkar Sejarah Percandian Indonesia” di Aula Utama Yayasan Sangha Theravada Indonesia, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Seminar tersebut menjadi ruang refleksi lintas iman dan budaya yang mempertemukan tokoh agama, akademisi, budayawan, jurnalis, serta pegiat lingkungan untuk membahas hubungan spiritualitas, pelestarian lingkungan, dan warisan budaya Nusantara.

Ketua Umum Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia, Yusuf Mujiono, dalam sambutannya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga warisan leluhur, termasuk situs percandian, dengan tetap merawat alam dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab spiritual kepada Tuhan.

Seminar menghadirkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai keynote speaker, bersama sejumlah narasumber di antaranya Dhamosubho Mahathera, Joe Marbun, dan Ashiong P. Munthe.

Dalam paparannya, Fadli Zon menegaskan bahwa candi bukan sekadar tumpukan batu atau monumen mati, melainkan manuskrip visual yang menggambarkan cara pandang leluhur Nusantara terhadap harmoni alam semesta.

“Candi-candi yang tersebar di Sumatera, Jawa, dan berbagai wilayah Nusantara menunjukkan bagaimana leluhur kita membangun situs spiritual di kawasan yang menyatu dengan ekosistem alam, seperti lereng gunung dan sumber mata air,” ujarnya.

Menurutnya, Kementerian Kebudayaan saat ini mendorong pengelolaan candi tidak hanya dari aspek arkeologis dan fisik semata, tetapi juga sebagai pusat kehidupan berkelanjutan yang mengintegrasikan nilai budaya, spiritualitas, dan pelestarian lingkungan.

Fadli Zon juga menyoroti pentingnya kesadaran spiritual dalam menghadapi krisis lingkungan global. Ia menilai isu perubahan iklim merupakan ancaman nyata yang harus dijawab melalui pendekatan budaya dan religius.

“Ekoteologi mengajarkan bahwa merawat bumi merupakan bagian dari ibadah. Relief-relief candi yang menggambarkan flora dan fauna membuktikan bahwa pelestarian alam sejak dahulu merupakan standar spiritual masyarakat Nusantara,” katanya.

Sementara itu, Dhamosubho Mahathera menjelaskan bahwa keberadaan candi-candi di Nusantara menjadi bukti tingginya peradaban leluhur bangsa Indonesia. Ia mencontohkan Candi Borobudur yang dibangun dengan tingkat presisi tinggi dan teknologi yang maju pada masanya.

“Candi adalah karya besar anak bangsa yang menunjukkan bahwa leluhur kita memiliki peradaban tinggi dan pemahaman spiritual mendalam. Warisan ini harus dikelola dengan baik agar memberi nilai positif bagi bangsa,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Joe Marbun menilai situs percandian Nusantara merupakan representasi utuh dari peradaban agraris yang memiliki kesadaran ekologis dan spiritual tinggi. Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap situs percandian saat ini tidak hanya berasal dari faktor alam, tetapi juga rendahnya kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian budaya.

Sedangkan Ashiong P. Munthe menekankan bahwa sejarah percandian Indonesia merupakan memori peradaban yang mengingatkan masyarakat modern tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Menurutnya, krisis ekologis yang terjadi saat ini muncul ketika manusia mulai kehilangan kesadaran spiritual terhadap alam dan warisan budayanya sendiri.

Melalui seminar tersebut, PEWARNA berharap lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan dan merawat warisan budaya bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan bagian dari panggilan spiritual dan peradaban bangsa.

Eko saliwunto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!