BeritaDaerahNasionalPendidikan

Inovasi Dosen Biologi UNM: Sulap Barang Bekas Jadi Hidroponik TOGA di Maros.

4
×

Inovasi Dosen Biologi UNM: Sulap Barang Bekas Jadi Hidroponik TOGA di Maros.

Sebarkan artikel ini

Maros – Tim Dosen Prodi Pendidikan Biologi FMIPA UNM menggelar pelatihan budidaya hidroponik Tanaman Obat Keluarga (TOGA) untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Sawaru, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros pada Sabtu (20/6/2026). Inovasi ini menyulap sampah botol plastik menjadi ‘Apotek Hidup’ yang ramah lingkungan.

Pelatihan pengabdian masyarakat ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Firdaus Daud, M.Pd. bersama tim dosen dan mahasiswa dari Prodi Magister Pendidikan Biologi UNM. Tim pengabdi tersebut beranggotakan Prof. Dr. Dra. Syamsiah, M.Si., Prof. Dr. Andi Asmawati Azis, M.Si., Dr. Dian Aswita, S.Pd., St. Fatima Kadir, dan Muarifah.

Tujuan utama dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah merubah lahan pekarangan warga yang kosong menjadi “Apotek Hidup” mandiri berbasis hidroponik sederhana. Tim memfokuskan pelatihan pada budidaya tanaman herbal bernilai ekonomis dan fungsional, seperti kemangi, daun mint, seledri, rosemary, hingga daun bawang.

“Metode ini dapat menghasilkan tanaman sehat, sekaligus membantu mengurangi sampah plastik di lingkungan,” kata Prof. Firdaus dalam keterangannya.

Gunakan Sistem Sumbu, Cegah Lumut Pakai Plastik Hitam

Dalam praktiknya, Ibu-Ibu KWT diajarkan menyulap botol dan gelas plastik bekas air mineral menjadi instalasi hidroponik sistem sumbu (wick system). Menariknya, desain ini dirakit tanpa penutup botol sebagai pengganti netpot guna memaksimalkan sirkulasi oksigen ke akar tanaman.

Untuk mencegah jamur dan lumut tumbuh pada larutan nutrisi, tim pengabdi membagikan trik khusus. Botol penampung cukup dicat dengan warna hitam atau dibalut menggunakan plastik hitam.

Racik Nutrisi Presisi Ala Petani Modern

Pelatihan dilakukan secara komprehensif. Mulai dari seleksi benih yang tenggelam di air, proses penyemaian dengan media rockwool, hingga pemindahan bibit ke botol berpelepah kain flanel.

Tidak hanya itu, peserta juga dilatih meracik nutrisi layaknya petani modern. Para ibu rumah tangga ini menakar 5 mL Nutrisi A dan 5 mL Nutrisi B ke dalam 1 liter air murni. Kadar tersebut lalu diukur secara presisi menggunakan pH Meter dan TDS EC Meter. Sebagai contoh, tanaman seledri dipastikan mendapat tingkat pH ideal di 6,0-6,5 dan kemekatan nutrisi di kisaran 1260-1680 ppm.

Keunggulan lain dari sistem hidroponik TOGA ini adalah masa panen yang praktis. Warga tidak perlu mencabut tanaman hingga ke akar alias bisa dipanen berulang kali (cut and come again). “Kemangi misalnya, sudah bisa dipanen dalam 30-45 hari cukup dengan memotong pucuk atau daun atasnya saja agar cabang baru kembali tumbuh subur,” urai tim pengabdi.

Warga Bentuk Kader Apotek Hidup

Ketua Kelompok Tani, Ibu Ramlah, menyambut positif terobosan dari akademisi UNM tersebut. “100 persen peserta juga menyatakan antusias dan berkomitmen mempraktikkannya secara mandiri. Sebagai wujud keberlanjutan, warga pun bersepakat membentuk Kader Apotek Hidup untuk mengawal perawatan area percontohan desa,” ungkap Ibu Ramlah.

Program yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UNM lewat dana hibah PNBP ini diharapkan dapat terus berlanjut.

“Ke depan, kami berharap kelompok ini dapat mengembangkan budidaya hidroponik sebagai sumber pangan sehat sekaligus peluang usaha baru bagi masyarakat,” tutup Prof. Firdaus. (Suleman S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!