Oleh: Suarsanto (Kader HMI MPO Cabang Kota Kendari)
Opini – Sejak usia dini, manusia mengalami proses pembelajaran yang bersifat alamiah melalui interaksi dengan lingkungan sosial terdekat.
Aktivitas dasar seperti mandi, berpakaian, makan, berdiri, hingga berbicara merupakan bentuk pembiasaan yang dilakukan secara berulang.
Proses ini tidak hanya membentuk kebiasaan, tetapi juga berkembang menjadi pola budaya dan karakter individu.
Dalam kajian pendidikan, fenomena tersebut dikategorikan sebagai pendidikan informal, yaitu proses pendidikan yang berlangsung secara tidak terstruktur namun memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan kepribadian.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pendidikan tidak berhenti pada ranah informal.
Individu memasuki fase pendidikan yang lebih sistematis, yang mencakup pengembangan intuisi, keterampilan, sikap, serta kepribadian.
Namun demikian, dalam praktiknya sering terjadi kecenderungan reduksi makna pendidikan menjadi sekadar penguasaan pengetahuan (knowledge-oriented).
Hal ini berimplikasi pada terpinggirkannya dimensi afektif dan moral yang seharusnya menjadi bagian integral dari proses pendidikan.
Menurut John Dewey, pendidikan merupakan proses yang menyertai pertumbuhan dan perkembangan individu secara berkelanjutan.
Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses transformasi yang mencakup pengembangan intelektual, moral, dan sosial secara simultan.
Dengan demikian, tujuan pendidikan ideal tidak hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan etika.
Dalam konteks pendidikan nasional, pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menjadi landasan filosofis yang menegaskan peran pendidik sebagai teladan, penggerak, dan pemberi dorongan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan proses holistik yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam pengembangan dirinya.
Dengan demikian, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, kesadaran etis, serta tanggung jawab sosial.
Tanpa dimensi tersebut, pendidikan berisiko kehilangan esensinya sebagai sarana pembebasan dan pengembangan manusia secara utuh, Sabtu 2 Mei 2026. (**)












