Ketua HIPMAKAWAN, Yonis.
Divisi88news.com, Buton Utara, Sultra – Keluhan terhadap buruknya pelayanan kesehatan di Kabupaten Buton Utara (Butur), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali mencuat.
Ketua Himpunan Mahasiswa Kelurahan Wandaka (HIPMAKAWAN), Yonis meminta Bupati Buton Utara, Afirudin Mathara S.H., M.H, untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Puskesmas Bonegunu dan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.
Desakan ini dipicu oleh rasa trauma yang dialami masyarakat Butur saat membawa seorang bayi berusia 2 bulan ke Puskesmas Bonegunu, di Buranga, pada tengah malam beberapa waktu lalu.
Kronologi kejadian 9 jam tanpa penanganan berarti. Kejadian bermula saat bayi tersebut dilarikan ke Puskesmas sekitar pukul 00.00 WITA karena mengalami diare akut (BAB lebih dari 4 kali dalam waktu singkat).
Setibanya di sana, pasien hanya diberikan obat melalui mulut menggunakan spuit tanpa penanganan intensif untuk mencegah dehidrasi.
Hingga pukul 07.00 pagi, kondisi bayi kian memprihatinkan setelah BAB sebanyak 15 kali. Meski keluarga sudah meminta pemasangan infus karena kondisi pasien mulai lemas, petugas piket yang saat itu hanya berjumlah satu orang menolak dengan alasan menunggu rekan sejawat yang baru datang pukul 08.00 WITA.
“Bayi sudah mulai lemas, tapi masih disuruh menunggu teman perawatnya datang lebih dari satu jam lagi. Tidak adakah orang lain di puskesmas ini yang bisa dimintai tolong” ujar masyarakat dengan nada kecewa yang disampaikan melalui keterangan Yonis kepada Divisi88news.com pada Hari Senin, (27/4/2026).
Kegagalan medis, krisis fasilitas, serta kekecewaan keluarga pasien kian memuncak saat proses pemasangan infus yang gagal dilakukan hingga berkali-kali oleh perawat maupun dokter yang baru tiba pukul 09.00 WITA.
“Diduga kuat, pembuluh darah pasien sudah sulit ditemukan akibat dehidrasi berat yang tidak segera ditangani sejak tengah malam,” ujar Yonis.
Puncak amarah keluarga terjadi saat pihak Puskesmas memutuskan untuk merujuk pasien ke RSUD, namun fasilitas pendukung utama justru lumpuh.
“Ambulans di Puskesmas ini tidak bisa beroperasi. Katanya mobilnya banyak kendala dan rusak terus,” ungkap Yonis.
Akibatnya, keluarga terpaksa menggunakan mobil pribadi untuk melarikan bayi yang sudah dalam kondisi kritis tersebut ke RSUD Buton Utara.
Tuntutan evaluasi dari HIPMAKAWAN, menanggapi adanya rentetan kelalaian tersebut. Yonis menegaskan bahwa pembenahan sistem kesehatan di Bonegunu adalah harga mati.
Ia menuntut agar Bupati Buton Utara mengevaluasi kedisiplinan dokter dan tenaga medis yang bertugas.
Selain itu, Dinas Kesehatan harus segera memperbaiki atau mengganti armada ambulans yang rusak demi keselamatan nyawa pasien.
Puskesmas Bonegunu memiliki SOP tanggap darurat yang jujur, jika tidak sanggup menangani, segera minta bantuan atau rujuk sejak awal tanpa menunda-nunda.
“Jangan sampai ada korban jiwa hanya karena kelalaian dan keterlambatan penanganan. Kami meminta Pak Bupati turun tangan langsung membenahi persoalan ini,” tutupnya.
Penulis: Suarsanto


























