Mahasiswa KKN Reguler Berdampak Batch 1 Tahun 2026 saat sesi foto bersama.
Divisi88news.com, Kendari, Sultra – Universitas Halu Oleo (UHO) melalui program Kukiah Kerja Nyata (KKN) Reguler Berdampak Batch 1 Tahun 2026 telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Ranokomea selama periode 2 Februari hingga 2 Maret 2026.
Desa Ranokomea merupakan desa wisata unggulan yang memiliki potensi alam seperti Danau Laponu-Ponu, Pulau Kondo, dan Pantai Karang Empat, serta potensi pertanian kelapa yang melimpah.
Meskipun demikian, desa ini masih menghadapi sejumlah permasalahan, di antaranya rendahnya literasi pendidikan, kurangnya pemahaman masyarakat terkait penggunaan obat yang benar (DAGUSIBU), pengelolaan sampah yang belum optimal, serta belum maksimalnya pemanfaatan kelapa sebagai produk bernilai tambah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, mahasiswa melaksanakan berbagai program kerja, meliputi sosialisasi pengembangan arkeologi pariwisata, edukasi DAGUSIBU, English Fun Learning dan English Course for Children.

Selain itu, juga diadakan pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO), pembuatan asbak dari tempurung kelapa, pembuatan tong sampah dan papan informasi pengelolaan sampah, pemasangan lampu jalan tenaga surya skala mikro, sosialisasi bullying di sekolah dasar, seminar literasi dan pentingnya pendidikan, serta senam bersama masyarakat.
Seluruh program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, kesadaran lingkungan, kesehatan, serta penguatan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Ranokomea, Iskandar Wase, menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai program yang dilaksanakan mahasiswa KKN Universitas Halu Oleo.
“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa KKN UHO yang telah menghadirkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, mulai dari edukasi kesehatan, pendidikan, hingga pemanfaatan potensi kelapa,” ujarnya saat dikonfirmasi kembali pada Selasa, (10/03/2026).
Salah satu yang diapresiasi oleh warga Desa Ranokomea kata Iskandar Wase, yaitu inovasi pengolahan tempurung kelapa menjadi asbak yang bernilai guna.
“Selain memanfaatkan limbah kelapa yang ada di desa, kegiatan ini juga memberikan contoh kepada masyarakat bahwa tempurung kelapa dapat dijadikan produk yang memiliki nilai ekonomi. Semoga inovasi seperti ini dapat terus dikembangkan ke depannya,” tutupnya. (**)
























