Oleh: Husni (Jurnalis Siber dan Pemerhati Sosial)
Opini – Saya bukan ekonom. Saya bukan pejabat. Saya juga bukan orang yang setiap hari membaca grafik pasar atau laporan keuangan negara.
Saya hanya seorang anak desa yang melihat kehidupan dari jalan-jalan kampung, dari sawah yang menunggu musim panen, dari pasar yang semakin sepi, dan dari obrolan sederhana masyarakat yang mulai sering membicarakan harga-harga kebutuhan hidup.
Karena itulah, ketika mendengar kabar tentang melemahnya rupiah atau berbagai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia, saya tidak melihatnya sebagai sekadar angka.
Saya melihatnya dari sudut pandang masyarakat biasa yang merasakan dampaknya secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari.
Di desa, ekonomi tidak dibicarakan dengan istilah yang rumit. Orang-orang tidak membahas inflasi, cadangan devisa, atau kebijakan moneter.
Mereka hanya tahu bahwa harga kebutuhan tertentu naik, biaya usaha bertambah, dan uang yang sama terasa tidak lagi cukup untuk membeli apa yang dulu bisa dibeli dengan mudah.
Mungkin keadaan hari ini belum bisa disebut sebagai krisis. Indonesia masih memiliki banyak kekuatan dan potensi.
Namun menurut pandangan saya, kondisi seperti ini tetap perlu menjadi bahan renungan bersama.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak menjadi kuat karena tidak pernah menghadapi masalah, melainkan karena mampu belajar ketika menghadapi masalah.
Sebagai anak desa, saya sering berpikir bahwa ekonomi negara sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ekonomi keluarga. Ketika keadaan sedang baik, semua orang merasa tenang.
Namun ketika keadaan mulai sulit, yang paling dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan kejujuran melihat kenyataan dan kesungguhan mencari jalan keluar.
Karena itu, saya percaya bahwa salah satu modal terbesar sebuah bangsa bukan hanya sumber daya alam, bukan pula besarnya anggaran negara, melainkan kepercayaan.
Ketika masyarakat percaya bahwa negaranya berada di jalur yang benar, mereka akan tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap berharap.
Tetapi ketika kepercayaan mulai berkurang, maka kegelisahan akan tumbuh lebih cepat daripada angka-angka dalam laporan ekonomi.
Dalam hal ini, saya sering teringat pada kisah Indonesia ketika menghadapi krisis besar pada akhir tahun 1990-an. Pada masa itu keadaan jauh lebih berat daripada sekarang.
Namun bangsa ini mampu bangkit karena ada kemauan untuk memperbaiki keadaan, melakukan pembenahan, dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap masa depan.
Saya tidak sedang membandingkan satu pemimpin dengan pemimpin lainnya. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.
Namun sejarah mengajarkan bahwa dalam masa sulit, rakyat selalu membutuhkan arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan keyakinan bahwa para pemimpin bekerja untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan.
Dari sudut pandang saya yang hidup di desa, solusi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari hal-hal yang besar.
Kadang ia dimulai dari hal-hal yang sederhana: petani yang mendapat kepastian untuk menjual hasil panennya dengan layak, nelayan yang memperoleh kemudahan dalam bekerja, pelaku usaha kecil yang mendapat ruang untuk berkembang, dan generasi muda yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan dan pekerjaan yang baik.
Saya percaya Indonesia memiliki segala syarat untuk menjadi negara yang kuat. Tanahnya subur, lautnya luas, penduduknya besar, dan sumber dayanya melimpah.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola semua potensi itu dengan bijaksana, konsisten, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang.
Harapan saya sebenarnya sederhana. Saya berharap para pemimpin, pengambil kebijakan, pelaku usaha, dan seluruh elemen bangsa dapat melihat ekonomi bukan hanya sebagai angka pertumbuhan atau statistik tahunan, tetapi sebagai kehidupan nyata yang dijalani jutaan rakyat setiap hari.
Di balik setiap angka ekonomi, ada petani yang menunggu hasil panennya dihargai dengan layak, ada nelayan yang berjuang melawan ombak untuk menghidupi keluarganya, ada pedagang kecil yang berharap dagangannya laku, dan ada generasi muda yang sedang menata masa depannya.
Saya juga berharap pembangunan ekonomi Indonesia semakin bertumpu pada kekuatan bangsa sendiri.
Negeri ini memiliki tanah yang subur, laut yang luas, dan sumber daya manusia yang besar.
Sudah saatnya potensi tersebut menjadi fondasi utama pembangunan, sehingga kesejahteraan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, tetapi dapat dirasakan hingga ke desa-desa yang selama ini menjadi penyangga kehidupan bangsa.
Lebih dari itu, saya berharap kepercayaan antara rakyat dan negara terus dijaga.
Sebab dalam situasi apa pun, kepercayaan adalah modal yang tidak dapat diukur dengan uang.
Ketika rakyat percaya bahwa setiap kebijakan dibuat untuk kepentingan bersama, maka rakyat akan ikut menjaga, mendukung, dan berpartisipasi dalam pembangunan.
Namun kepercayaan hanya dapat tumbuh melalui kejujuran, keteladanan, dan kerja nyata yang dirasakan manfaatnya.
Sebagai anak desa, saya mungkin tidak memiliki rumusan ekonomi yang rumit.
Namun saya percaya bahwa Indonesia akan menjadi lebih kuat apabila kemajuan yang dicapai tidak hanya terlihat dalam laporan dan statistik, tetapi juga terasa dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ketika petani tersenyum saat panen, ketika nelayan pulang membawa hasil yang cukup, ketika usaha kecil mampu berkembang, dan ketika anak-anak memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik, saat itulah pembangunan menemukan makna yang sesungguhnya.
Sebagai anak desa, saya mungkin tidak memahami seluruh persoalan ekonomi yang kompleks.
Namun saya memahami satu hal: rakyat selalu berharap agar setiap kebijakan yang diambil membawa manfaat nyata bagi kehidupan mereka.
Bukan hanya hari ini, tetapi juga bagi masa depan anak-anak mereka.
Ketika ekonomi diuji, yang dibutuhkan bukan sekadar optimisme tanpa dasar, tetapi harapan yang dibangun di atas kerja nyata.
Dan selama masih ada kemauan untuk memperbaiki keadaan, selama kepentingan rakyat tetap menjadi tujuan utama, saya percaya Indonesia akan mampu melewati berbagai tantangan sebagaimana bangsa ini pernah melewati masa-masa sulit sebelumnya.
Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terlihat saat keadaan sedang baik.
Kekuatan itu justru terlihat ketika menghadapi kesulitan, namun tetap memiliki keberanian untuk berharap dan terus melangkah ke depan.
Di situlah saya meletakkan harapan saya untuk Indonesia: sebuah negeri yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga semakin adil, semakin kuat, dan semakin mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya, dari kota hingga pelosok desa.
Muna, 31 Mei 2026.










