Oleh: Mardin Kadir (Ketua HMI Cabang Baubau Periode 2022-2023)
Opini – Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menapaki usia ke-66 pada tahun 2025. Berdasarkan pembentukannya melalui Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 yang diresmikan pada tahun 1960, daerah ini terus tumbuh dan berkembang dengan peringatan HUT ke-66 yang di laksanakan pada bulan Juli 2025.
Dan tentu kalau kita merefleksi kembali sejarah Kabupaten Buton dalam konteks perjalanan pemerintahannya, tentu telah banyak melahirkan pemimpin, dalam hal ini kepala daerah atau bupati yang telah melaksanakan pemerintahan di Kabupaten Buton dengan gaya kepemimpinannya masing-masing.
Ada satu masa kejayaan Buton menurut pandangan dan realitas yang saya lihat dan rasakan pada saat itu yaitu Kepemimpinan Abang Samsu Umar Abdul Samiun dan La Bakri masa bakti 2012-2017.
Saya berpendapat seperti ini karena semua berbasis fakta, saya melihat Abang Samsu Umar Abdul Samiun bukan sembarang pemimpin.
Beliau merupakan aktivis pada masa menjadi mahasiswa dan aktif dalam organisasi kemahasiswaan baik internal kampus maupun di luar kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga karakter atau gaya kepemimpinan beliau tidak diragukan lagi.
Perjalanan panjang Bang Umar Samiun, saya memanggil Abang karena beliau senior saya di HMI, dan beliau juga Dewan Penasehat Korps Alumni HMI di Kabupaten Buton pada saat itu, sehingga saya sering menyapa beliau dengan sapaan Abang atau Kanda.
Perjalanan karir politik beliau mulai dari terpilih sebagai Anggota DPRD dan kemudian menjadi Ketua DPRD Kabupaten Buton sampai menjadi Bupati Buton, ini semua menjadi bukti nyata kalau Bang Umar Samiun merupakan tokoh politik yang sangat di cintai masyarakat Buton,
Dalam perjalanan karir beliau menjadi Bupati pada tahun 2017 banyak kebijakan beliau yang sangat berpihak kepada masyarakat dan mempunyai jiwa membangun buktinya sebelum di masa kepemimpinan Bang Umar Samiun, Kabupaten Buton masuk Daerah tertinggal akan tetapi Buton di masa kepemimpinan Bupati Bang Umar Samiun di sulap menjadi Kabupaten yang maju dan berkembang,yang dulunya jalan-jalan poros di Ibu Kota Kab.Buton rusak dan sempit kini smuanya sudah bagus dan lebar.
Selain it di masa kepemimpinan Bang Umar samiu (Umar Bakry) kabupaten Buton mendapatkan Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tiga kali berturut-turut dari Badan Pemeriksaan Keuangan RI.
Dan masih banyak kebijakan pro kepentingan rakyat Buton yang telah di torehkan, contohnya di dunia pendidikan yaitu dengan menggratiskan baju seragam sekolah anak dari tingkat Sekolah Dasar sampai SMA sederajat.
Kemudian dalam bidang kesehatan, mulai dari Polinesia, Pustaka, dan Puskesmas telah dibangun dan di lengkapi semua fasilitas yang standar baik.
Tidak sampai disitu, di masa kepemimpinannya, Bang Umar Samiun berkomitmen mewujudkan Kabupaten Buton menjadi daerah kawasan bisnis dan budaya terdepan.
Hal ini dibuktikan dengan dibukanya tambang aspal yang sudah lama vakum, sehingga aspal Buton di kenal hingga mendunia.
Begitupun di bidang budaya, Buton juga dikenal luas dengan adanya kegiatan Ferstival Budaya Tua Buton yang diselenggarakan setiap tahun, bahkan telah menjadi agenda kalender Nasional pada saat itu.
Dengan adanya kegiatan festival budaya tua di Kabupaten Buton tersebut telah melahirkan perputaran ekonomi yang sangat tinggi pada masyarakat Buton.
Di masa kepemimpinannya, Bang Umar Samiun juga membangun jalan dan jembatan, yang menghubungkan daerah-daerah lumbung produksi pertanian dan holtikultura yang pada saat itu sulit untuk dijangkau, dan saat ini teraspal mulus sampai saat ini kita rasakan dan nikmati manfaatnya.
Sehingga menurut saya, Abang Umar Samiun ini telah meletakkan dasar dengan standar tinggi, yang mana belum ada Bupati di Buton sampai saat ini yang bisa sama dengan kebijakan-kebijakan beliau dalam memimpin Buton.
Menurut keyakinan saya, Abang Umar Samiun layak dan pantas di juluki Bapak Pembangunan Kabupaten Buton. Saya yakin dan percaya bahwa mayoritas masyarakat merindukan sentuhan kepemimpinan Bang Umar Samiun di Buton. (**)










