BeritaPendidikan

30 Hari di Rakadua, Mahasiswa KKN Tinggalkan Jejak Pengabdian yang Tak Sekedar Program Kerja

6
×

30 Hari di Rakadua, Mahasiswa KKN Tinggalkan Jejak Pengabdian yang Tak Sekedar Program Kerja

Sebarkan artikel ini

Divisi88news.com BOMBANA — Tiga puluh hari berlalu begitu cepat. Namun, bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rakadua, Kecamatan Poleang Barat, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), waktu sebulan lebih itu meninggalkan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar daftar program kerja.

Sejak 16 Juli 2026, para mahasiswa hadir di tengah masyarakat. Mereka datang membawa pengetahuan dari bangku perkuliahan, tetapi pulang dengan membawa pelajaran yang hanya bisa diperoleh ketika hidup, bekerja, dan berinteraksi langsung bersama masyarakat.

Selama 30 hari mengabdi, kelompok KKN Desa Rakadua menjalankan berbagai program yang menyentuh sejumlah aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari lingkungan, pendidikan, administrasi, hingga kegiatan sosial dan kebersamaan warga.

Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Karang Taruna, serta masyarakat setempat.

Salah satu program wajib yang dijalankan adalah pembuatan video dokumenter kegiatan KKN. Sementara program utama diwujudkan melalui pembuatan plang nama dusun, yang diharapkan dapat membantu memperjelas identitas wilayah sekaligus menjadi bagian dari penataan informasi desa.

Tak berhenti di sana, mahasiswa juga membawa program sesuai bidang keilmuan masing-masing. Di antaranya pencatatan inventaris, sosialisasi menabung sejak dini, edukasi anti-bullying, sosialisasi anti-narkoba, serta edukasi mengenai pemanfaatan kompos biokar.

Sejumlah program tambahan turut dikerjakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan. Mahasiswa membuat papan peringatan jalan, papan nama masjid, serta papan batas Desa Rakadua–Bulunamai.

Sementara itu, kegiatan olahraga antar-dusun menjadi salah satu momentum yang mempertemukan mahasiswa dan masyarakat dalam suasana yang lebih cair. Di balik kompetisi, tumbuh interaksi, keakraban, dan semangat kebersamaan yang membuat kehadiran mahasiswa semakin dekat dengan warga.

Koordinator Desa (Kordes) KKN, Muhamad Irsan Lacia, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat dukungan berbagai pihak.

Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Karang Taruna, serta seluruh masyarakat Desa Rakadua yang telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mengabdi.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Karang Taruna, dan seluruh masyarakat Desa Rakadua yang telah bersama-sama menyukseskan program kerja kami,” ujar Irsan.

Menurut Irsan, KKN tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kewajiban akademik yang harus diselesaikan mahasiswa. Lebih dari itu, KKN menjadi kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat secara nyata.

Selama berada di desa, mahasiswa belajar bahwa sebuah program tidak cukup hanya dirancang di atas kertas. Ia membutuhkan komunikasi, keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah, serta kemampuan untuk membaca kebutuhan yang benar-benar ada di lapangan.

“Bagi kami mahasiswa, KKN ini bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar dan mendapatkan pengalaman langsung bersama masyarakat,” katanya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan para mahasiswa. Sebab, ruang pengabdian mempertemukan teori yang selama ini dipelajari di kampus dengan realitas kehidupan masyarakat.

Ada pengetahuan yang dibawa mahasiswa kepada masyarakat. Namun pada saat yang sama, ada pula banyak pelajaran yang justru dibawa mahasiswa ketika meninggalkan desa.

Kini, masa pengabdian itu telah berakhir. Satu per satu program telah dituntaskan, dan para mahasiswa akan kembali melanjutkan perjalanan akademiknya.

Namun, berakhirnya KKN bukan berarti berakhir pula hubungan yang telah dibangun.

Irsan berharap komunikasi dan hubungan baik yang telah terjalin selama 30 hari dapat terus dipertahankan meski mahasiswa telah kembali ke lingkungan kampus.

Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pengabdian tidak hanya diukur dari berapa banyak program yang berhasil dilaksanakan.

Tetapi juga dari seberapa dalam kehadiran itu memberi arti, seberapa kuat kebersamaan yang dibangun, dan seberapa lama manfaatnya dapat dirasakan setelah mereka pergi.

Bagi mahasiswa KKN Desa Rakadua, 30 hari mungkin hanya sebuah angka dalam kalender. Tetapi bagi mereka yang menjalaninya, itu adalah perjalanan yang akan menjadi bagian dari cerita panjang tentang belajar, mengabdi, dan tumbuh bersama masyarakat.

Penulis: Suarsanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!