Divisi88news.Com BALIKPAPAN – Di balik riuhnya aktivitas Kota Balikpapan, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Di kawasan Karang Rejo, Balikpapan Tengah, Sabtu (22/8/2026), seorang ibu rumah tangga berinisial AM menjalani hari-harinya sebagai pengemudi ojek online Maxim demi satu tujuan sederhana: memastikan keempat anaknya tetap dapat bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
AM bukan hanya menjalankan peran sebagai seorang ibu. Dalam kondisi keluarga yang mengharuskannya menjadi tulang punggung, ia juga mengambil tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama. Setiap hari, ia berhadapan dengan jalanan, panas, hujan, kemacetan, serta ketidakpastian penghasilan.
Namun, semua itu dijalaninya dengan satu keyakinan bahwa pendidikan anak-anaknya tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.
Keempat buah hatinya masih membutuhkan perhatian dan biaya pendidikan. Anak pertama duduk di kelas VI sekolah dasar, anak kedua kelas II, anak ketiga kelas I, sementara anak bungsunya masih berusia 4 tahun.
Empat anak, empat kebutuhan, dan satu harapan yang sama—mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan.
Di tengah perjuangan tersebut, ada pemandangan yang sederhana namun menyentuh. Ketika mendapatkan orderan penumpang, AM terkadang harus membawa serta anaknya dalam perjalanan. Setelah memastikan sang anak bersamanya, ia kemudian menjalankan order dan mengantarkan penumpang menuju tujuan.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Namun, jika dilihat lebih dalam, terdapat perjuangan seorang ibu yang sedang berusaha membagi waktunya antara mencari nafkah dan menjaga buah hati.

Ia tidak sedang mengejar kemewahan. Ia hanya sedang berusaha memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, uang sekolah tersedia, dan anak-anaknya tetap memiliki kesempatan untuk belajar seperti anak-anak lainnya.
Di balik setiap kilometer yang ditempuh, ada doa seorang ibu. Di balik setiap orderan yang diterima, ada harapan agar anak-anaknya kelak tidak mengalami kehidupan sesulit yang sedang ia jalani.
Kisah AM menjadi gambaran bahwa kemiskinan dan keterbatasan bukan selalu tentang seseorang yang tidak mau bekerja. Ada mereka yang telah bekerja keras sejak pagi hingga malam, tetapi penghasilannya tetap harus dibagi untuk berbagai kebutuhan keluarga.
Dalam kondisi seperti itu, perhatian pemerintah menjadi sangat penting.
Pemerintah Kota Balikpapan, pemerintah kecamatan, kelurahan, serta instansi terkait diharapkan dapat lebih aktif melihat dan mendata keluarga-keluarga yang berada dalam kondisi rentan, khususnya perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga dan memiliki anak-anak yang masih menempuh pendidikan.
Perhatian tersebut tidak harus selalu berbentuk bantuan sesaat. Dukungan yang lebih berkelanjutan melalui program pemberdayaan ekonomi keluarga, akses pendidikan, bantuan kebutuhan sekolah, pelatihan keterampilan, hingga penguatan usaha bagi keluarga berpenghasilan rendah dapat menjadi jalan agar mereka mampu berdiri lebih kuat.
Sebab, ketika pemerintah membantu seorang ibu mempertahankan pendidikan anak-anaknya, sesungguhnya pemerintah sedang berinvestasi pada masa depan.
Empat anak AM bukan sekadar angka dalam sebuah keluarga. Mereka adalah bagian dari generasi yang kelak akan mengisi masa depan Kota Balikpapan dan bangsa Indonesia.
Karena itu, kisah seperti ini semestinya tidak berhenti sebagai cerita yang mengundang rasa iba. Kisah ini seharusnya menjadi bahan renungan sekaligus panggilan kepedulian bagi seluruh pihak bahwa masih ada keluarga yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata.
AM mungkin tidak memiliki panggung untuk menyampaikan keluh kesahnya. Ia hanya memiliki sepeda motor, telepon genggam, aplikasi Maxim, dan kemauan untuk terus bekerja.
Tetapi dari kendaraan sederhana itulah, ia sedang membawa sesuatu yang jauh lebih besar: harapan empat anak untuk tetap bersekolah.
Di tengah pembangunan kota yang terus bergerak maju, jangan sampai masih ada keluarga yang berjuang sendirian tanpa mengetahui ke mana harus meminta pertolongan.
Harapan besar tentu tertuju kepada pemerintah setempat agar dapat memberikan perhatian dan membuka akses bantuan yang tepat bagi keluarga seperti AM. Bukan karena mereka ingin dikasihani, melainkan karena mereka layak mendapatkan kesempatan yang sama untuk hidup lebih baik.
Karena sesungguhnya, ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya dilihat dari megahnya pembangunan, tetapi juga dari seberapa jauh pemerintah mampu hadir di tengah warganya yang paling membutuhkan.
Dan bagi AM, setiap kali mesin motor dinyalakan dan orderan penumpang masuk, ia bukan sekadar sedang bekerja.
Ia sedang menjemput rezeki, menjaga pendidikan anak-anaknya, dan mengantar empat buah hati men Menjuju masa depan yang ia impikan.
Eko Saliwunto


























