Divisi88news.com BUTON TENGAH – Di tengah perhatian masyarakat terhadap sosoknya yang belakangan viral di Kecamatan GU, Brigadir Sriyuniati Basan tetap menunjukkan sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Konsistensi tersebut terlihat saat Brigadir Sriyuniati Basan melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengawasan terhadap tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Polsek GU, Kabupaten Buton Tengah.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Polsek GU itu menjadi bagian dari tugas kepolisian dalam memastikan keamanan, ketertiban, serta kondisi para tahanan tetap terpantau dengan baik selama menjalani proses hukum.
Bagi seorang petugas kepolisian, pengawasan terhadap tahanan bukan sekadar memastikan ruang tahanan tetap aman. Di dalamnya terdapat tanggung jawab untuk menjaga ketertiban sekaligus memastikan setiap orang yang sedang menjalani proses hukum tetap mendapatkan perlakuan yang manusiawi dan sesuai ketentuan.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut, Brigadir Sriyuniati mengedepankan pendekatan yang humanis, namun tetap menjaga ketegasan dan disiplin. Sikap tersebut penting agar suasana di lingkungan Rutan Polsek GU tetap kondusif, sekaligus menciptakan pola pembinaan yang tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Kapolsek GU, Ipda Yuyun S.H., mengatakan bahwa pembinaan dan pengawasan terhadap tahanan merupakan bagian dari tanggung jawab personel kepolisian yang harus dilaksanakan secara konsisten dan profesional.

«“Pembinaan dan pengawasan terhadap tahanan merupakan bagian dari tugas kami untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Pendekatan humanis tetap dikedepankan, namun aspek disiplin dan pengamanan harus tetap menjadi perhatian,” ujar Ipda Yuyun S.H.»
Menurutnya, keberadaan petugas di lingkungan tahanan juga menjadi bagian dari upaya mencegah terjadinya gangguan keamanan. Pengawasan dilakukan secara berkelanjutan agar situasi tetap terkendali dan seluruh tahanan menaati aturan yang berlaku.
Pendekatan humanis, lanjutnya, bukan berarti mengurangi ketegasan dalam penegakan aturan. Sebaliknya, sikap tegas dan manusiawi harus berjalan beriringan sehingga pelaksanaan tugas kepolisian tetap berada dalam koridor profesionalitas.
Kegiatan pembinaan tersebut juga menjadi gambaran bahwa tugas seorang anggota Polri tidak hanya terlihat ketika berada di tengah masyarakat dalam kegiatan pelayanan maupun pengamanan. Tanggung jawab yang sama juga hadir di balik pintu ruang tahanan, ketika petugas dituntut mampu menjaga keamanan sekaligus menghadirkan pendekatan yang menghargai martabat manusia.
Di tengah sorotan publik terhadap Brigadir Sriyuniati Basan, pelaksanaan tugas tersebut menunjukkan bahwa perhatian masyarakat dapat dijawab melalui konsistensi dalam bekerja. Popularitas bukanlah ukuran utama pengabdian, melainkan bagaimana seorang anggota Polri tetap mampu menjaga integritas, disiplin, dan tanggung jawab ketika menjalankan amanah.
Bagi Polsek GU, pembinaan dan pengawasan tahanan merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pelayanan kepolisian yang profesional, tegas, dan tetap humanis.
Sebab, di balik setiap proses hukum, ada kewajiban negara untuk memastikan keamanan berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap kemanusiaan. Di titik itulah profesionalisme seorang anggota Polri diuji—bukan hanya ketika menjadi sorotan, tetapi terutama ketika menjalankan tugas dalam kesunyian dan tanggung jawab.
Eko Saliwunto
























