Uncategorized

Air “Melai” Berasa Comberan dan Berbau, Alarm Keras Kegagalan Standar dan Pembiaran

6
×

Air “Melai” Berasa Comberan dan Berbau, Alarm Keras Kegagalan Standar dan Pembiaran

Sebarkan artikel ini

Kemasan Air ‘Melai’ Yang ditemukan Berasa Comberan dan Berbau, Jumat (17/04/2026).

Divisi88News.Com, Baubau – Air minum dalam kemasan seharusnya menjadi produk paling steril dari segala keraguan. Ia diminum tanpa dimasak, dikonsumsi lintas usia, dan dijual dengan janji mutu. Karena itu, ketika muncul keluhan air mineral kemasan gelas merek “Melai” berasa “comberan” dan berbau, persoalannya tidak bisa dianggap sepele. Ini bukan sekadar soal rasa, ini menyentuh inti keamanan pangan dan kesehatan publik.

Informasi bahwa sumber air berasal dari sumur bor yang berdekatan dengan septic tank seharusnya langsung menyalakan alarm merah. Dalam praktik sanitasi dasar, jarak sumber air bersih dengan sumber limbah domestik wajib dijaga untuk mencegah kontaminasi bakteriologis seperti E. coli (Escherichia coli) alias bakteri gram-negatif yang umumnya hidup di saluran pencernaan manusia dan hewan berdarah panas.

Jika dugaan ini benar, maka ada dua kemungkinan: standar teknis diabaikan, atau pengawasan kualitas dilakukan secara asal-asalan. Keduanya sama-sama berbahaya.

Yang membuat situasi semakin mencurigakan adalah sikap perusahaan. Upaya konfirmasi jurnalis justru berujung “dipingpong”, dari pabrik diarahkan ke kantor, di kantor diminta menunggu tanpa kejelasan, lalu kembali menunggu tanpa hasil. Ini bukan sekadar buruknya pelayanan komunikasi, melainkan indikasi kuat ketidaksiapan atau ketidakmauan untuk transparan. Dalam dunia usaha yang sehat, keluhan serius seperti ini seharusnya dijawab cepat, terbuka, dan berbasis data uji laboratorium. Diam justru memperbesar kecurigaan.

Label halal yang tertera pada produk semakin memperberat tanggung jawab moral produsen. Halal tidak hanya bicara soal bahan, tetapi juga soal proses yang higienis dan tidak membahayakan. Ketika produk berlabel halal diduga memiliki kualitas yang meragukan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan konsumen, tetapi juga kepercayaan terhadap sistem sertifikasi itu sendiri.

Pertanyaan mendasar bagaimana cara mendapatkan label halalnya, sampel airnya diambil darimana.

Lebih jauh, kasus ini membuka celah lemahnya pengawasan. Industri air minum dalam kemasan, khususnya skala lokal, kerap luput dari inspeksi ketat yang berkelanjutan. Padahal, produksi air siap minum tanpa pengendalian kualitas yang disiplin adalah risiko langsung bagi masyarakat. Uji berkala terhadap parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi bukan pilihan itu kewajiban mutlak. Jika ada produk yang lolos ke pasar dengan kualitas seperti yang dikeluhkan, maka patut dipertanyakan: di mana peran pengawas?

Dampaknya tidak berhenti pada satu merek. Kasus seperti ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap seluruh produk air minum kemasan. Konsumen menjadi ragu, pasar menjadi tidak sehat, dan pelaku usaha yang benar-benar menjaga kualitas ikut dirugikan. Ini adalah efek domino dari satu dugaan kelalaian yang tidak ditangani dengan serius.

Karena itu, langkah tegas harus diambil. Audit menyeluruh terhadap sumber air, proses produksi, hingga distribusi perlu dilakukan oleh pihak berwenang. Hasilnya harus dibuka ke publik. Jika terbukti melanggar, sanksi administratif hingga pencabutan izin harus menjadi konsekuensi logis bukan sekadar peringatan di atas kertas.

Di sisi lain, perusahaan tidak bisa terus bersembunyi di balik diam. Klarifikasi berbasis fakta, uji laboratorium independen, dan perbaikan nyata adalah satu-satunya cara memulihkan kepercayaan jika itu masih memungkinkan.

Air minum bukan komoditas biasa. Ia menyangkut kesehatan, bahkan keselamatan. Ketika air yang seharusnya menyegarkan justru memunculkan kecurigaan dan rasa jijik, itu bukan sekadar masalah kualitas produk. Itu adalah cermin kegagalan tanggung jawab. Dan kegagalan seperti ini tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa konsekuensi.

Penulis: Harianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!