Oleh: Harun (Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia,
Universitas Muhammadiyah Malang)
Opini – Di tengah laju modernisasi yang kian cepat, manusia justru kerap kehilangan ruang untuk berhenti dan merefleksikan hidup.
Segala sesuatu bergerak serba instan, efisien, dan rasional. Namun, di saat yang sama, nilai-nilai kebersamaan, refleksi diri, dan kesadaran moral perlahan terpinggirkan.
Dalam konteks inilah tradisi lokal sering disalahpahami sebagai sesuatu yang usang, padahal ia justru menyimpan mekanisme sosial yang relevan untuk menjaga keseimbangan hidup.
Salah satu contoh yang menarik adalah Cucurangi Togo, ritual lima tahunan masyarakat Desa Lasalimu, Kabupaten Buton.
Cucurangi Togo bukan sekadar peristiwa adat yang diulang secara berkala.
Jarak pelaksanaannya yang mencapai lima tahun menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki bobot sakral sekaligus reflektif.
Ia menjadi semacam “ruang jeda budaya” yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk meninjau kembali relasi sosial, memperbaiki ketegangan yang mungkin muncul, serta meneguhkan kembali nilai-nilai yang diyakini bersama.
Dalam kehidupan modern yang cenderung individualistik, ruang semacam ini menjadi semakin langka.
Inti dari Cucurangi Togo terletak pada simbol penyembelihan kambing yang kemudian dibagi menjadi dua bagian.
Sebagian daging dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebaikan dan keberkahan, sementara sebagian lainnya dibuang sebagai lambang keburukan yang harus disingkirkan.
Sekilas, praktik ini dapat dipandang sederhana, bahkan mungkin dianggap tidak rasional dalam logika modern.
Namun, justru pada titik inilah makna simboliknya bekerja.
Ritual ini merepresentasikan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya memilih nilai dalam kehidupan.
Apa yang dianggap baik dirawat dan dibagikan, sementara yang buruk dilepaskan secara sadar.
Dalam perspektif sosial-budaya, tindakan simbolik semacam ini memiliki fungsi performatif: ia tidak hanya menyampaikan makna, tetapi sekaligus membentuk kesadaran bersama.
Dengan kata lain, Cucurangi Togo bukan sekadar diwariskan, melainkan terus “dihidupkan” melalui praktik yang mengikat masyarakat secara emosional dan kultural.
Jika ditarik lebih luas, simbol tersebut mencerminkan realitas kehidupan manusia yang selalu berada dalam persimpangan pilihan moral.
Setiap individu dihadapkan pada keputusan untuk mempertahankan kebaikan atau membiarkan keburukan tumbuh.
Melalui ritual ini, masyarakat Lasalimu secara kolektif menegaskan bahwa keburukan tidak untuk dipelihara, melainkan harus dilepaskan.
Nilai ini menjadi penting, terutama di tengah situasi sosial yang sering kali diwarnai konflik, ketimpangan, dan krisis kepercayaan.
Selain dimensi simbolik, Cucurangi Togo juga memperlihatkan kuatnya kohesi sosial masyarakat.
Pelaksanaannya melibatkan berbagai unsur, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Proses ini menciptakan ruang interaksi yang memperkuat solidaritas dan rasa memiliki.
Dalam kajian sosiologi, praktik semacam ini berperan sebagai mekanisme integrasi sosial yang menjaga stabilitas komunitas.
Artinya, tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen yang mempertahankan keberlangsungan kehidupan sosial.
Lebih jauh, tradisi ini juga berfungsi sebagai media pendidikan budaya yang efektif.
Nilai-nilai tidak diajarkan secara teoritis, melainkan dialami langsung oleh generasi muda.
Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari proses ritual.
Dengan cara ini, nilai seperti kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial ditanamkan melalui pengalaman konkret.
Dalam konteks pendidikan, model semacam ini memiliki daya internalisasi yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran yang bersifat verbal semata.
Keunikan Cucurangi Togo juga terletak pada kekhasannya yang tidak ditemukan di daerah lain.
Di tengah keragaman budaya Indonesia, tradisi ini menunjukkan bahwa setiap komunitas memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan nilai kehidupan.
Keberagaman tersebut bukan sekadar identitas, tetapi juga sumber pengetahuan lokal yang dapat memperkaya perspektif kita dalam memahami manusia dan kebudayaannya.
Namun demikian, keberlangsungan tradisi ini tidak lepas dari tantangan.
Arus globalisasi dan perubahan gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda, berpotensi mengikis kedekatan terhadap tradisi lokal.
Ketika budaya populer lebih mendominasi ruang hidup, tradisi seperti Cucurangi Togo bisa saja kehilangan relevansinya jika tidak dikelola dengan baik.
Oleh karena itu, pelestarian tradisi perlu dilakukan secara adaptif. Yang perlu dijaga bukan hanya bentuk ritualnya, tetapi terutama nilai-nilai yang dikandungnya.
Upaya dokumentasi, integrasi dalam pembelajaran, serta penguatan peran tokoh adat menjadi langkah strategis agar tradisi ini tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Dengan pendekatan yang tepat, tradisi tidak akan menjadi beban masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi masa depan.
Pada akhirnya, Cucurangi Togo mengajarkan satu hal yang sederhana namun mendasar: kehidupan selalu tentang pilihan. Memilih untuk merawat kebaikan dan melepaskan keburukan.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, pesan ini justru menjadi semakin relevan.
Tradisi ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa cepat kita bergerak, tetapi juga dari seberapa bijak kita menjaga nilai-nilai yang membuat kita tetap manusia. (**)










